Askep HIV / AIDS

HIV / AIDS

  1. DEFINISI

Aids adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV yang di tandai dengan menurunnya system kekebalan tubuh sehingga pasien AIDS mudah diserang oleh infeksi oportunistik dan kanker. ( djauzi dan djoerban,2003)

Aids adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibat oleh factor luar (bukan dibawa sejak lahir)

Aids diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi human immunodetciency virus HIV. (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare)

Aids diartikan sebagai bentuk paling hebat paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( center for disease control and prevention).

  1. ETIOLOGI

Aids disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebutkan Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang diularkan oleh darah dan punya afinitas yang  kuat terhadap limfosit T,

Yang ditularkan melalui :

  1. Hubungan seksual ( resiko 0,1 – 1%
  2. Darah

a)      Transfuse darah yang mengandung HIV ( resiko 90 – 98)

b)      Tertusuk jarum yang mengandung HIV ( resiko 0,3)

c)      Terpapar mukosa yang mengandung HIV (resiko 0,09 )

  1. Transmisi dari ibu ke anak ( rusak 25 – 45 % )

a)      Selama kehamilan ( rusak 7% )

b)      Saat persalinan ( rusak 18 % )

c)      Air susu ibu ( rusak 14 % )

Transmisi vertikel HIV

Tanpa intervensi : resiko total 35 %

  • Selama kehamilan ( resiko 7% )
  • Melahirkan (resiko 18 %)
  • Sesudah persalinan ( resiko 13 %)
  1. TANDA DAN GEJALA

Stadium klinis ( stadium 1 – 4 )

Stadium klinis HIV ( WHO )

  1. Stadium klinis 1 :
  • Asimtomatis
  • Limfadenopati generalisasi persistemt ( LGP )

(Pembesaran kelenjar getah bening dibeberapa tempat yang menetap)

  1. Stadium klinis 2 :
  • BB menurun <10 % dari BB semula
  • Kelainan kulit dan mukosa ringan seperti : dermatitis seboroik, infeksi jamur kuku, ulkus oral
  • Herpes zozter dalam 5 tahun terakhir
  • Infeksi saluran napas bagian atas berulang seperti sinusitis bacterial
  1. Stadium klinis 3 :
  • BB terus menurun > 10 % dari BB semula
  • Diare kronis yang tidak diketahui penyebabnya berlangsung > 1 tahun
  • Demam tanpa sebab yang jelas
  • Kandidiasis oral
  • TB paru dalam 1 tahun terakhir
  • Infeksi bakteri berat (pneumonia)
  • Herpes zozter yang berkomlikasi
  1. Stadium klinis 4 :
  • Badan menjadi kurus
  • Pneumocystis carinii pneumonia (pcp)
  • Toksoplasmosis pada otak
  • Infeksi virus heper simpleks
  • Mikosis ( infeksi jamur )
  • Kandidiasis eosofagus, trakea, bronkus atau paru
  • Sarcoma koposi
  • Limfoma

Tanda dan gejala dimulai beberapa minggu sampai beberapa bulan sebelum timbulnya infeksi oportonistik :

  • Demam
  • Malaise
  • Keletihan
  • Keringat malam
  • Penurunan BB
  • Diare kronik
  • Limfadenopati umum
  • Kamdidiasis oral
  1. MANIFESTASI KLINIS

Penyakit AIDS menyebar luas dan pada dasarnya dapat mengenai semua organ.penyakit yang berkaitan dengan HIV/AIDS  terjadi akibat unfeksi, malignansi atau efek langsung HIV pada jaringan tubuh.

Penyakit yang sering ditemukan:

  1. Respiratorius

Pneumonia pneumocystis carinii, gejala napas yang pendek, sesak napas ( dispnea),batuk, nyeri dada dan demam akan menyertai palbagai infeksi oportunis,seperti yang disebabkan oleh Mycobacterium aviumintracellulare (CMV)

Dan legionella.

  1. Gastrointestinal

Mencakup hilangnya selera makan, mual, vomitus, kandidiasis oral serta esophagus,dan diare kronis.

  1. Kanker
  2. Sarcoma Kaposi
  3. Limfoma burkit
  4. Penurunan imunitas
  5. PATOFISOLOGI
  • Sel t dan makrofag serta sel dendritik / langerhans (sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi HIV dan terkonsentrasi di kelenje limfe, limpa dan sumsum tulang. HIV menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka HIV menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyak kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
  • Dengan menurunya jumlah sel t4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti dengan berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunya fungsi sel T penolong.
  • Seseorang yang terinfeks HIV dapat tetap tidak memperlihatkan gejala ( asimptomatik) selama bertahun-tahun.selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
  • Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunustik ) muncul, jumlah t4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah.seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila terjadi infeksi opurtunistik,kanker atau di mensi AIDS.
  1. PENATALAKSANAAN
    1. Pengobatan suporatif

Tujuan :

  • Meningkatkan keadaan umum pasien
  • Pemberian gizi yang sesuai
  • Obat sistomatik dan vitamin
  • Dukungan psikilogis
  1. Pengobatan infeksi oportunistik

Infeksi :

  • Kandidiasis eosofagus
  • Tuberculosis
  • Toksoplasmosis
  • Herpes
  • Pcp
  • Pengobatan yang terkait AIDS,Limfoma malignum,sarcoma Kaposi dan sarcoma servik,di sesuaikan dengan standar terapi penyakit kanker.

Terapi :

  • Flikonasol
  • Rifampisin, INH, Etambutol, pirazinamid, stremptomisin
  • Pirimetamin, sulfadiazine, asam folat
  • Asiklovir
  • Kotrimoksazol
  1. Pengobatan anti retro virus ( ARV )

Tujuan :

  • Mengurangi kematian dan kesakitan
  • Menurunkan jumlah virus
  • Meningkatkan kekebalan tubuh
  • Mengurangi resiko penularan

ASKEP HIV/AIDS

1.Pengkajian

a. Riwayat penyakit

banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Seperti diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis. Keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imonokompetensi pasien.

b.Pemeriksaan fisik dan keluhan

  • Aktivitas / istirahat
    • Gejala :mudah lelah, intoleran activity, progresi malaise, perubahan pola tidur.
    • Tanda : Kelemahan otot, menurunnya assa otot, respo fisiologi aktivitas (perubahan TD, frekuensi jantung dan pernafasan).
    • Sirkulasi
      • Gejala : penyembuhan yang lambat (anemia),perdarahan lama pada cedera.
      • Tanda : perubahan TD postural, menurunnya volume nadi perifer, pucat/ sianosis,               perpanjangan pengisian kapiler.
      • Intergitas dan ego
        • Gejala : stress berhubungan dengan kehilangan, menguatirkan penampilan,             mengingkari diagnose, putus asa.
        • Tanda : mengingkari,cemas, depresi,takut, menarik diri, marah.
        • Eliminasi
          • Gejala : diare terus-menerus,sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri                      panggul , rasa tebakar saat miksi.
          • Tanda : feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat,sering nyeri   tekan abdominal,lesi/ abses rectal, perional ,perubahan jumlah, warna dan             karakter urine.
          • Makanan atau cairan
            • Gejala : anoreksia, mual, muntah, disfagia,
            • Tanda : turgor kulit buruk, lesi rongga mulut kesehatan gigi dan gusi yang buruk,edema .
            • Hygiene
              • Gejala : tidak dapat menyelesaikan AKS
              • Tanda : penampilan tidak rapai,kurang percaya diri.
              • Neurosensori
                • Gejala : pusing,sakit kepala,perubahan status mental,kerusakan status indera,          kelemaan otot, tremor,perubahan penglihatan.
                • Tanda : perubahan status mental, ide paranoid,ansietas, reflek tidak             normal,tremor,kejang, hemiparesis.
                • Nyeri/ nyaman
                  • Gejala : nyeri umum/ local, rasa terbakar, sakit kepala, nyeri dada pleuritas.
                  • Tanda : bengkak sendi, nyeri kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentan gerak.
                  • Pernapasan
                    • Gejala : ISK sering/ menetap,napas pendek,progresif,batuk,sesak pada dada.
                    • Tanda : takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
                    • Keamanan
                      • Gejala : riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka, tranfusi darah, penyakit defisiensi                imun, demam berulang, bekeringat malam.
                      • Tanda : perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe,menurunnya                              tekananan.
                      • Seksualitas
                        • Gejala : riwayat berprilaku, sejs beresiko tinggi,
                        • Tanda : kehamilan, herpes, genetalia.
                        • Interaksi social
                          • Gejala : masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.
                          • Tanda : perubahan interaksi
  • Penyuluhan / pembelajaran
    • Gejala : kegagalan dalam perawatan, prilaku seks beresiko tinggi,                                        penyalahgunaan obat-obatan.alkohol.

c. pemeriksaan diagnostic

1. Tes laboratorium

Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiaknosa HIV dan memantau perkembangan penyakit serta respon terhadap terapi HIV.

  1. Serologis
  • Tes antibody serum

Skrining HIV, hasil tes positf,tapi bukan merupakan diagnose

  • Tes blot western

Mengkonfirmasi diagnose HIV

  • Sel T limfosit

Penurunan jumlah total

  • Sel T4 helper

Indicator system imun

  • Sel T8 (Sel supresor sitopatik)
  • P24 (Protein pembungkus HIV)

Peningkatan nilai kuantitatif protein mengindentifikasi progresi

  • Kadar Ig
  • Reaksi rantai polymerase

Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler

  • Tes PHS
  1. Budaya

Histologist, pemeriksaan sitologis, urine, darah, feces, cairan spinal, luka

  1. Neutologis

EEG, MRI, CT scan otak, EMG (Pemeriksaan saraf)

  1. Sinar X dada
  2. Tes fungsi pulmonal

2. Tes antibody

Jika seseorang terinfeksi HIV maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Anti body terbentuk dalam 3-12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6-12 bulan.

B. Diaknosa keperawatan

Diagnosa Keperawatan Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan criteria hasil Intervensi Rasional
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan komplikasinya dengan kriteria tak ada tanda-tanda infeksi baru, lab tidak ada infeksi oportunis, tanda vital dalam batas normal, tidak ada luka atau eksudat.
  1. Monitor tanda-tanda infeksi baru.
  2. gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan.
  3. Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen.
  4. Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order.
  5. Atur pemberian antiinfeksi sesuai order
Untuk pengobatan dini

Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit.

Mencegah bertambahnya infeksi

Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan

Mempertahankan kadar darah yang terapeutik

Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV, adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan. Infeksi HIV tidak ditransmisikan, tim kesehatan memperhatikan universal precautions dengan kriteriaa kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV, tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC.
  1. Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya.
  2. Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu.
Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini

Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain

Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen, malnutrisi, kelelahan. Pasien berpartisipasi dalam kegiatan, dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas.
  1. Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas
  2. Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu
  3. Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat.
Respon bervariasi dari hari ke hari

Mengurangi kebutuhan energi

Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik

2 pemikiran pada “Askep HIV / AIDS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s